Ahok Bukanlah Pemimpin, Tapi Seorang Bos

By On Tuesday, April 26th, 2016 Categories : Serba-Serbi
Catatan si Boy – Banyak yang menilai gaya kepemimpinan Ahok bukanlah seorang pemimpin/ leader, tapi gaya seorang bos. Semua sudah tau apa beda leader dan bos. Leader lebih mendorong dan mendukung anak buah, namun bos biasnaya lebih menekan. Di kepemimpinan pemerintahan, jiwa leaderlah yang dibutuhkan karena leader fungsinya mengayomi dan anak buah dan leader sama-sama digaji dengan uang negara/ rakyat. Namun bos (perusahaan), gaji anak buah dibayar dengan uang bos, jad wajar kalau bos memerintah dengan gaya tekanan demi keuntungan perusahaan. 
Beredar kabar kalau Wali Kota Jakarat Utara mengundurkan diri karena tidak tahan dengan gaya kepemimpinan Ahok. Di saat harga diri lebih besar daripada uang. Seperti yang diberitakan dalam viva.co.id:

Wali Kota Jakarta Utara Mundur, DPRD Kritik Ahok

Wali Kota Jakarta Utara Mundur, DPRD Kritik Ahok
Wali Kota Jakarta Utara, Rustam Effendi (Tengah)
Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, mengkritik gaya
kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama. Ahok, sapaan
Basuki, dianggap tidak cakap berkomunikasi dengan anak buahnya. Hal itu
berujung dengan pengunduran diri Wali kota Jakarta Utara, Rustam
Effendi.
“Fraksi PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) DPRD DKI
menyesalkan pengunduran diri dari Pak Rustam. Seharusnya, ada komunikasi
yang baik dari pak Ahok,” ujar Anggota DPRD Fraksi PDIP, Steven Musa
dihubungi melalui sambungan telepon, Senin 25 April 2016.
Menurut Steven, seorang pemimpin seharusnya melayani dan memiliki
komunikasi yang baik dengan anak buahnya. Rustam disebut berhak mundur
untuk mempertahankan harga dirinya.
“Beliau (Rustam) tidak mau harkat dan martabatnya dinjak-injak, sekali pun itu berasal dari atasan beliau,” kata dia.
Sebelumnya, Wali kota Jakarta Utara Rustam Effendi mengundurkan diri
dari jabatannya sebagai wali kota. Kepala Badan Kepegawaian Daerah
(BKD), DKI Agus Suradika mengatakan, surat pengunduran diri diajukan
langsung Rustam ke Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Senin
sore. BKD menerima salinan surat tersebut.
“Benar Rustam telah mengajukan surat pengunduran diri. Tembusannya
sudah diterima,” ujar Agus saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Agus mengatakan, surat yang dikirimkan Rustam adalah surat pernyataan
pengunduran diri, bukan permohonan. Ahok tidak perlu memberi
persetujuan atas pengunduran diri Rustam.
Ternyata bukan hanya Wali Kota yang tidak tahan, Banyak pejabat DKI yang juga mengeluh dan tidak dapat bekerja di bawah tekanan. Seperti berita berikut ini:

Tak Tahan Tekanan Ahok, 23 Pejabat DKI Berniat Mundur

Sebanyak 23 kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Pemerintah Provinsi DKI disebut memiliki niat mundur dari jabatannya.
Anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD DKI Syarif mengatakan, para
pejabat kebanyakan merasa tidak nyaman dengan kondisi birokrasi
pemerintah. Niatan itu sudah muncul setidaknya sejak empat bulan lalu.
“Santernya ada 23 kepala SKPD. Sejak empat bulan lalu banyak yang
ingin mengundurkan diri, tapi membatalkan niatnya karena merasa memiliki
tanggung jawab pekerjaan,” ujar Syarif saat dihubungi melalui sambungan
telepon pada Selasa, 26 April 2016.
Syarif mengatakan, dalam pandangannya, di bawah kepemimpinan Gubernur
DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, para pejabat bekerja di
bawah tekanan. Para pejabat telah bekerja keras sesuai arahan, tetapi
tidak mendapat apresiasi yang sepadan.
“Kondisi pemerintah di era Pak Gubernur ini under pressure,” ujar Syarif.
Syarif mengatakan, para pejabat, juga tidak mendapat dukungan moral
dari Gubernur. Dalam rapat, para pejabat juga kerap tidak diberi
kesempatan untuk menyampaikan pendapat.
Syarif mengatakan, hal itu terjadi kepada Wali Kota Jakarta Utara
Rustam Effendi. Rustam, yang telah secara resmi mengirimkan surat
pengunduran diri ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) pada Senin, 25 April
2016, telah menjalankan setiap arahan Ahok, sapaan akrab Basuki. Namun,
dalam rapat, Rustam malah diberi tuduhan macam-macam.
Syarif mengatakan, Rustam juga tidak mendapat kesempatan untuk menyampaikan argumennya.
“Pak Rustam melihat tidak ada kondisi yang lebih baik. Daripada terus
bekerja dalam kondisi seperti ini, dia berpikir untuk mengundurkan
diri,” ujar Syarif.
Seperti diketahui, Rustam yang menjadi Wali Kota Jakarta Utara sejak 2
Januari 2015, telah secara resmi menyampaikan surat pengunduran diri.
Keputusan itu diambil setelah pada Jumat, 22 April 2016, dalam rapat
penanganan banjir di Jakarta Smart City Lounge, Ahok menuduh Rustam
bersekongkol dengan salah satu bakal calon Gubernur DKI, Yusril Ihza
Mahendra, karena lambannya penertiban hunian liar di Jakarta Utara untuk
penanganan banjir.
“Pak Wali kalau saya suruh ngusir orang itu, wah ngelesnya. Jangan-jangan satu pihak sama Yusril,” ujar Ahok, Jumat.
Rustam yang langsung membantah tuduhan Ahok pada saat itu, keesokan
harinya, juga mengeluarkan keluh kesah melalui status Facebook. Rustam
mengeluhkan Ahok yang menurutnya tidak mengayomi bawahan, malah
mengeluarkan tuduhan tak berdasar kepada dirinya.
“Tuduhan dan fitnah itu keluar dari pimpinan yang sebenarnya saya
berharap memberikan petunjuk, arahan, bimbingan, memotivasi, memberi
semangat,” tulis Rustam.

Incoming search terms:

|, ahok tergolong bos atau leader|
Ahok Bukanlah Pemimpin, Tapi Seorang Bos | Si Boy | 4.5
Leave a Reply