Tragedi Irma Bule Menghalau Kemiskinan. Siapa Peduli?

By On Saturday, April 9th, 2016 Categories : Serba-Serbi
Catatan si Boy – Pada umumnya pemberitaan tentang tewasnya Irma Bule sang penyanyi dangdut amatir yang bertaruh nyawa dengan berjoget bersama ular kobra hanya berkutat pada kulit luarnya saja. Penilaian yang hanya bersumber dari kulit luar yang terlihat, yakni “Konyol”. Bagaimana tidak konyol, Irma Bule tewas karena bernyanyi bersama ular paling beracun di dunia yang akhirnya membuatnya tewas. 
Namun ada seorang penulis artikel yang memandangnya dari sudut pandang lain. Sudut pandang yang dikupas berdasarkan realita kehidupan, asal usul mengapa hal itu sampi terjadi. Nama beliau ini adalah Budi Setiawan, menulis artikelnya tetang Irma Bule ini via wall facebook pribadinya dengan judul Kerupuk Miskin Irma Bule. Saya menilai bahwa inilah ketika jurnalistik kritis mulai bangun’. Memandang sesuatu dari sudut lain.
Kebanyakan berita tentang Irma Bule kebanyakan disebut konyol – termasuk saya sendiri sebelumnya – dan seperti
biasanya para komentator (hakim dadakan) pun penuh dengan bully-an tanpa memandang dari sudut
yang lebih kritis “mengapa hal itu bs terjadi”. Di tangan beliau ini,
pembaca pun bisa tersentuh hati dengan paparan yg lebih dalam dan di luar
kebiasaan. Artikel beliau ini menjadi inspirasi bagi saya dalam memandang sesuatu dengan lebih kritis.
Beikut ini artikel beliau yang saya ambil dari akun facebook Budi Setiawan dan share di blog ini:

Kerupuk Miskin Irma Bule

 

Adakah anda mengenal Irma Bule?
Tidak tahu? Baiklah saya ceritakan siapa dia. Irma Bule adalah
penyanyi dangdut asal Karawang yang tewas
dipatuk ular Cobra, Minggu 3 April 2016 lalu. Warga Kampung Pawarengan,
Desa Dawuan Tengah, Kecamatan Cikampek, Karawang yang berusia 29 tahun
dengan nama asli Irmawati itu memang dikenal sebagai penyanyi dangdut
dengan atraksi menari dengan ular. 
Tapi nahas bagi ibu tiga anak balita itu. Saat berjoget ia tidak
sengaja menginjak ekor ular cobra yang diajak manggung. Ular yang sangat
berbisa itu mematuk pahanya. Dia sempat terjatuh dan terkulai.. Sang
pawang ular minta Irma bule tidak melanjutkan pertunjukkannya. Namun
istri seorang buruh pabrik itu menolak diobati dan tetap bernyanyi dan
bergoyang selama 45 menit..Setelah rehat barulah,Irma Bule tersungkur
pingsan dan dilarikan ke rumah sakit namun nyawanya tidak tertolong.

Video detik-detik Irma digigit ular tersebar di You Tube dan sudah
dilihat lebih dari 1,4 juta orang. Beritanya yang tragis tidak hanya
mendapat liputan luas di dalam negeri melainkan juga media luar negeri.
Tidak kurang 110 media asing memuat kejadian tragis tersebut, termasuk
media ternama The Washington Post, Fox News,Majalah Time, Daily Mirror
dan the Telegraph Inggris. Bahkan.media Rusia, Bosnia, India, Argentina
sampai Nigeriapun memberitakan peristiwa yang tidak lazim itu.
Berdasarkan literatur, bisa ular cobra membunuh makhluk hidup yang
digigitnya hanya dalam hitungan dibawah 5 menit. Namun Irma Bule bisa
bertahan sampai 45 menit. Ini adalah rekor dunia !!
Ada spekulasi
lamanya bisa ular itu bekerja karena Irma terus bergerak dan ada
sugesti untuk terus tampil hingga berhasil menghambat perambatan racun
ganas itu..Baru setelah aktivitas geraknya melambat, bisa ular itu
langsung melesat melumpuhkan otot-otot jantung penyanyi malang itu.
Pertanyaannya mengapa Irma Bule tidak berhenti ketika ular cobra mematuknya. Tidak seorangpun yang bisa menjawab pasti.
Namun berkaca pada latar belakang keluarganya yang miskin, daya juang
Irmalah yang mungkin membuat dia bisa bertahan selama itu. Dia tetap
bertahan berjoget dan bernyanyi karena mungkin khawatir bayarannya yang
cuma 500 ribu sekali manggung itu hilang.
.Dia mendapat bayaran
lebih dari pendangdut yang cuma nyanyi saja.. Dialah yang menciptakan
tarian dangdut ular agar laris dipanggil. Itulah yang hanya dia bisa
lakukan sejak SMP. Melakukan apa yang dia bisa untuk bertahan dan keluar
dari kemiskinan yang terus mencengkeram.
Kemiskinan di Pantura
yang jaraknya hanya selemparan batu dari Jakarta, memaksa penduduknya
berjuang apa saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk kaum
perempuannya. Banyak yang menjadi PRT atau TKW. Banyak perempuan Pantura
yang nikah muda kemudian menjadi janda hanya untuk mendapat KTP supaya
bisa pergi menjadi TKW ke luar negeri.Yang tidak beruntung terperangkap
di dunia hitam dan menjadi korban sindikat perdagangan manusia.
Sementara yang mengais rejeki di seni,seperti Irma Bule dan ratusan
penyanyi dangdut amatiran lain harus rela berkeliling dari kampung ke
kampung sampai dini hari hanya untuk beberapa ratus ribu saja. Mereka
merelakan tubuhnya dijamah sambil mengundang dengan kata-kata sensual
para lelaki berkantong tebal untuk naik kepanggung agar mau bermurah
hati menyelipkan lembaran seribuan dan lima ribuan lecek di dada,
lipatan celana atau di rok seksinya.
Mereka tetap bergoyang meski
para lelaki mesum itu meraba- raba tubuh dan melecehkan mereka
berulang-ulang selama berjam-jam. Yang penting bagi para pendangdut itu
mendapatkan sedikit uang tambahan ketika acara bubar sekitar 3 dini hari
dan baru bisa pulang menjelang subuh dengan wajah pucat kelelahan.
Itulah yang biasa dialami Irma Bule jika saja dia tidak tewas malam
itu.
Tapi tidak ada pejabatpun yang perduli akan nasib
tragisnya.Tidak ada satu pejabat Karawangpun yang bersimpati termasuk
Bupati Cecilia yang jomblo glamour itu untuk menjenguk keluarga
menyampaikan rasa duka padahal kematian Irma Bule mendapat perhatian
luas baik dari dalam maupun luar negeri.
Pemberitaan luar biasa
ini juga tidak sampai ke telinga Ketua DPR Ade Komarudin. Padahal dia
adalah wakil rakyat yang maju ke Senayan karena perolehan suara dari
daerah pemilihan Karawang. Sangat mungkin Irma Bule memberikan suaranya
untuk Ade Komarudin. Tapi Ketua DPR itu lebih suka menanggapi kegenitan
para istri rekannya dengan tas puluhan juta yang tengah bercanda ria
suka cita menikmati indahnya persaudaraan mereka di Negeri Sakura, saat
Irma Bule lepas nyawanya.
Mereka mungkin mengangggap kematian
Irma Bule tidak penting. Sama seperti pejabat pemerintahan disana yang
tidak perduli dengan kemiskinan kawasan Pantura, Jawa Barat. Lihat saja
alokasi anggaran untuk pengentasan kemiskinan disana. Subang misalnya,
30 persen penduduknya atau sekitar 130 ribu Kepala Keluarga hidup
dibawah garis kemiskinan. Namun pemda setempat hanya menyediakan dana 60
juta untuk program kemiskinan setahun sementara lebih dari 60 persen
APBD Subang diperuntukkan untuk membayar gaji dan operasional
pemerintahan.
Lebih memprihatinkan lagi, mereka justru
menjadikan Kemiskinan sebagai “objek wisata”. Setidaknya inilah kesan
saya ketika mendapat tugas berkunjung ke wilayah Pantura. Dengan bangga
pejabat daerah memperkenalkan.kerupuk miskin sebagai oleh-oleh andalan
kawasan Pantura.
Seperti layaknya pemandu wisata, mereka
bercerita bahwa kerupuk itu terbuat sagu diberi garam kasar dan digoreng
dengan pasir karena ketika paceklik tidak ada yang mampu beli minyak
goreng. Selama musim paceklik, itulah lauk nasi yang mereka makan.
Supaya anak-anak mau makan, kerupuk itu diberi warna warni. Dia dan
beberapa pejabat disana mengakhiri cerita itu dengan tertawa lepas
ketika menyebut nama lain kerupuk miskin yakni kerupuk melarat. Saya
cuma tersenyum getir menyaksikan ulah mereka. Bagi saya, kerupuk miskin
adalah reprentasi masalah kemiskinan akut yang seharusnya mereka
ceritakan dengan deraian air mata.
Saat saya membaca pemberitaan
Irma Bule, saya teringat betapa kerupuk miskin itu langsung lengket di
langit-langit rongga mulut ketika dimakan dan baru turun ke lidah ketika
nasi masuk dan dia bikin seret hingga harus banyak minum supaya tidak
tersedak. Inilah menu penduduk Pantura selama berbulan-bulan waktu
paceklik agar terhindar dari kelaparan. Dan Irma Bule pasti tidak ingin
anak-anaknya makan kerupuk miskin.
Karena dorongan ini, mungkin,
Kartini dari Pantura itu, tetap memaksa bekerja, bergoyang sambil
bernyanyi sekenanya meski terluka parah terkena bisa dan meregang
nyawa.
Tapi siapa perduli?

Sekian, semoga bermafaat!

Tragedi Irma Bule Menghalau Kemiskinan. Siapa Peduli? | Si Boy | 4.5
Leave a Reply