Antara Ahok, Bir, dan Yuyun Korban Perkosaan dan Pembunuhan

By | May 5, 2016
Antara Ahok, Bir, dan Yuyun Korban Perkosaan dan Pembunuhan
Catatan si BoyAhok: Salahnya Bir di Mana? Ada Enggak Orang Mati karena Minum Bir? Itu pertanyaan ahok tentang bir beberapa waktu yang lalu. Bir yang notabene mengandung alkohol yang dapat membuat orang mabuk. 
Akhirnya pertanyaan Ahok terjawab. Ternyata alkohol baru-baru ini dapat membunuh orang dan secara biadab juga diperkosa. Memang yang dibunuh bukan yang meminum alkohol tersebut, namun seorang siswi SMP yang masih 14 tahun yang secara biadab diperkosa, disiksa dan kemudian dibunuh oleh 14 pemuda yang rata-rata masih di bawah umur yang sedang mabuk alkohol.
Dialah Yuyun, seorang siswi kelas 2 SMP yang masih 14 tahun di Bengkulu.
Berikut ini Narasi Kisah Pilu Yuyun yang ditulis oleh netizen yang menjadi viral di facebook. Narasi nyedihkan yang ditulis dari sudut pandan apabila anda seorang Yuyun.
#‎NAMA_SAYA_YUYUN‬
Saya Yuyun, 14 tahun, siswi kelas 2 SMP 5 Satu Atap di Padang Ulak
Tanding, Rejang Lebong, Bengkulu. Tadi di sekolah ada kegiatan kegiatan Pramuka, makanya saya memakai seragam cokelat. 
Seragam Pramuka saya mungkin tidak sebersih seragam kamu saat sekolah.
Maklum saya gadis desa yang akrab dengan getah pohon dan debu. Tapi saya
bangga menggenakannya. Saya juga bangga menjadi siswi, bersekolah
bersama teman-teman. Bagi saya belajar adalah bagian dari perjalanan
saya untuk mengenal dunia. Mencerucup ilmu pengetahuan adalah bekal saya
untuk masa depan.

Baca juga Inilah Kronologi Pemerkosaan Yuyun hingga Dibunuh 14 Pemuda Biadab di Bengkulu

Meski hidup di desa, di pelosok pulau
Sumatera, saya juga punya cita-cita. Saya juga punya harapan untuk masa
depan. Sama seperti anak-anak lain. Sama seperti putra dan putri bapak
dan ibu. Bukankah itu yang diajarkan, bahwa setiap anak harus
menggantungkan cita-citanya setinggi langit?
Siang itu udara
panas ketika saya melewati areal perkebunan sepulang sekolah. Hujan
memang sudah lama tidak turun. Meski sedikit haus, tapi saya harus cepat
pulang. Seperti biasa, saya hanya berjalan kaki, Menusuri tanah desa
kami. Saya ingin cepat sampai di rumah, melepaskan lelah setelah
berjalan cukup jauh, dan makan siang bersama keluarga.
Saya
memang tidak pernah diantar-jemput ke sekolah. Di desa kami, yang jauh
dari keriuhan kota, berjalan kaki adalah kebiasaan. Adakah yang lebih
indah bagi kami, selain menusuri jalan-jalan kecil desa? Menikmati
sepinya suasana sambil bernyanyi kecil. Membayangkan sendau gurau
teman-teman di sekolah tadi pagi.
Di sebuah tikungan, di areal
yang sepi saya berjumpa beberapa teman lelaki. Mereka menghampiri saya.
Saya kenal salah satunya. Dia adalah kakak kelas. Mereka mengajak saya
bergabung duduk di sana, tapi saya menolak. Saya ingin cepat pulang.
Saya juga tidak suka dengan bau mulut mereka. Bau arak menguap, seperti
kecoa yang keluar dari got. Juga biji mata yang semerah saga.
Tapi mereka tidak suka ditolak. Satu orang menarik tangan saya dengan
kasar. Saya menepisnya. Tiba-tiba dari belakang, seorang yang lain
menyergap. Membekap mulut saya, menghalangi suara teriakan. Saya hampir
kehabisan nafas.
Salah satu dari mereka memukul dengan keras.
Saya terhuyung. Pandangan menjadi gelap. Yang lain membawa tali,
mengikat tangan saya. Sambil terus meronta, saya berusaha melepaskan
diri. Tapi tenaga mereka seperti banteng. Ke 14 lelaki itu, yang
sebagian juga mengenal saya, telah memperlakukan saya seperti binatang.
Saya dibanting dengan keras ke tanah, disusupkan diantara pepohonan.
Mereka menarik seragam Pramuka saya. Robek, Rok cokelat tua dikoyak.
Saya menjerit, tapi bekapan tangan mereka begitu kuat. Lalu dengan paksa
mereka memperkosa saya. Saat itu, di tengah himpitan kebejatan, saya
hanya bisa merintih. Mulut saya tidak henti-hentinya memanggil ibu. Saya
berharap dia mendengar rintihan putrinya.
Ibu, inilah putri
kecilmu. Dikangkangi gerombolan binatang dengan mulut bau arak dan nafsu
luber di kepala. Ibu inilah putrimu merintih menahan perih. Perih pada
tubuhku. Pedih pada jiwaku. Mereka menyiksaku. Merusak kehormatanku
beramai-ramai. Memukuli tubuhku dengan tangan dan kayu. Ibu inilah putri
yang engkau lahirkan, yang engkau rawat dan sekolahkan. Diperlakukan
dengan bengis, disusupkan diantara ilalang, diikat seperti binatang. Ibu
ini Yuyun. Yuyun sendirian menghadapi kebuasan iblis yang menjelma
manusia. Ibu…
Tapi mereka terus menyerang kewanitaanku. 14
orang secara bergantian. Saya rasa sekeji-kejinya binatang tidak ada
yang memperlakukan mahluk seperti itu. Hanya rasa perih yang terasa,
Setiap saat semakin perih. Saya menjerit. Tapi suara sudah habis.
Jeritan saya disusul pukulan kayu ke kepala. Semuanya gelap.
Dalam gelap saya melihat wajah sedih ibu. Air matanya meleleh. Saya
menyaksikan kemurungan di wajah bapak. Urat mukanya tegang. Saya ingin
memeluknya. Ingin mengadu pada mereka. Tapi suasana semakin gelap. Saya
tidak lagi merasa sakit. Setelah puncak rasa sakit, yang ada hanyalah
kekosongan.
Tubuh saya ringsek. Seragam Pramuka yang hanya
satu-satunya itu terkoyak. Kasian ibu, dia harus membelikan seragam
Pramuka yang baru. Maafkan saya, ibu. Kebengisan ini telah merusak
seragam Pramukaku. Maafkan aku bapak, pukulan kayu di kepalaku telah
memisahkan kita untuk selamanya.
Nama saya Yuyun. Siswi kelas 2
SMP 5 Satu Atap, Padang Ulak Tanding, Rejang Lebang, Bengkulu. Saya juga
punya cita-cita, sama seperti anak bapak dan ibu. Kini cita-cita itu
tanggal. Saya hanya tinggal jasad, menggenakan seragam Pramuka yag
koyak, yang ditemukan terikat di dasar jurang.
Semoga pelaku-pelakunya mendapatkan hukuman seberat-beratnya.

2 thoughts on “Antara Ahok, Bir, dan Yuyun Korban Perkosaan dan Pembunuhan

  1. Arifruhiat Sastramidjaja

    Para pelaku harus dihukum seberat2 nya…. Hukum mati, seumur hidup, atau kebiri / dirusak kemaluannya agar merasakan hidup tanpa kemaluannya dpt berfungsi dgn baik

    Reply
    1. arisugianto Post author

      Sangat setuju!!! Semoga hukum kebiri yang kabarnya segera disahkan segera dilakukan kepada pelaku biadab tersebut…

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *