Biografi Muhammad Ali – Sang Legenda Tinju Dunia

By On Saturday, June 4th, 2016 Categories : Serba-Serbi
Legenda Tinju Dunia, Muhammad Ali, tutup usia pada umur 74 tahun
Legenda Tinju Dunia, Muhammad Ali, tutup usia pada umur 74 tahun
Catatan si Boy – Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’uun. Semoga tenang di alam sana, legenda tinju dunia, Muhammad Ali. Ia lahir sebagai Cassius Marcellus Clay, Jr. pada 17 Januari, 1942. Dia
dikenal sebagai pensiunan petinju Amerika Serikat dan juga juara tinju
kelas berat. Pada tahun 1999, Ali dianugerahi “Sportsman of the Century”
oleh Sports Illustrated.Ali tiga kali menjadi Juara Dunia Tinju kelas
Berat. Ali lahir di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. Namanya
mengikuti nama ayahnya, Cassius Marcellus Clay, Sr. Ali kemudian
mengubah namanya setelah bergabung dengan Nation of Islam dan akhirnya
memeluk Islam Sunni pada tahun 1975.

Sebelum masuk Islam, dia menjuluki dirinya dengan “Yang Terbesar” karena
dia adalah petinju terbaik pada masanya. Bahkan para pengamat olah raga
mengakuinya sebagai petinju terbaik abad ini. Sejarah tinju belum
pernah mengenal petinju secepat dia. Dia berlaga dengan gesit di atas
ring dan memukul KO lawannya, lalu berseru dengan bangga, “Akulah yang
terbesar”.

Akan tetapi setelah masuk Islam, dia membuang julukan ini, karena tidak
suka membanggakan diri dan menjadi seorang yang sederhana dengan jiwa
yang Islami. Dialah petinju dunia Casius Mercelus Clay yang setelah itu
dikenal dengan Muhammad Ali Clay. Dia bercerita tentang perjalanannya
masuk Islam.

Muhammad Ali dilahirkan di Kentucky, Amerika Serikat. Daerah yang
dikenal dengan ayam goreng khas yang memakai namanya, yang juga terkenal
dengan perbedaan etnis yang kental. Sejak kecil Muhammad Ali sudah
merasakan perbedaan perlakuan ini karena aku berkulit coklat. Barangkali
hal inilah yang mendorongku untuk belajar tinju agar bisa membalas
perlakuan jahat teman-temannya yang berkulit putih. Dan karena Muhammad
Ali mempunyai bakat serta otot yang kuat sehingga memudahkan jalannya.

Ketika belum genap berusia 20 tahun, Muhammad Ali sudah memenangkan
pertandingan kelas berat di Olimpiade Roma tahun 1960. Hanya beberapa
tahun kemudian Muhammad Ali berhasil merebut juara dunia kelas berat
dari Sony Le Stone dalam pertarungan paling pendek, karena hanya
beberapa menit Muhammad Ali berhasil menjadi juara dunia. Dan di antara
tepuk riuh para pendukung dan kilatan-kilatan alat kamera, Muhammad
Ali berdiri didepan jutaan penonton yang mengelilingi ring dan kamera
TV Islam, mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengganti namanya menjadi
Muhammad Ali Clay. Untuk memulai sebuah peperangan baru melawan
kebatilan yang menghalanginya mengumumkan ke-Islaman-nya semudah ini.

Kepindahan Muhammad Ali ke agama Islam adalah hal yang wajar dan selaras
dengan fitrah-fitrah yang Allah ciptakan untuk manusia. Kembalinya ke
fitrah kebenaran membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berfikir, ini
dimulai tahun 1960, ketika seorang teman muslim menemaninya pergi ke
masjid untuk mendengarkan pengajian tentang Islam. Ketika mendengarkan
ceramah, Muhammad Ali merasakan panggilan kebenaran memancar dari dalam
jiwaku, menyeruku untuk menggapainya, yaitu kebenaran hakikat Allah,
agama dan makhluk.

Perjalanan keimanan Muhammad Ali berlangsung bertahun-bertahun dalam bentuk perbandingan antara Islam dan Masehi, sebuah perjalanan yang berat, karena orang-orang disekitarnya
menghalanginya, kondisi masyarakat yang rusak, kebenaran dan kebatilan
bercampur aduk, ditambah lagi dengan doktrin gereja yang menggambarkan
keadaan orang-orang muslim yang lemah dan terbelakang yang diakibatkan
oleh ajaran Islam itu sendiri. Tapi Allah memberinya petunjuk, dan
menerangi jalan pilihannya sehingga Muhammad Ali dapat membedakan antara
realita umat Islam sekarang dengan hakekat Islam yang abadi. Muhammad
Ali meyakini bahwa Islam membawa kebahagiaan untuk semua orang. Tidak
membeda-bedakan warna kulit, etnis dan ras, semuanya sama dihadapan
Allah azza wa jalla. Yang paling utama di sisi Tuhan mereka adalah yang
paling bertakwa. Muhammad Ali meyakini sedang berada didepan sebuah
kebenaran yang tak mungkin berasal dari manusia.

Aku membandingkan ajaran Trinitas dengan ajaran Tauhid dalam Islam.
Aku merasa bahwa Islam lebih rasional. Karena tidak mungkin tiga Tuhan
mengatur satu alam dengan rapih seperti ini. “Tidaklah mungkin bagi
matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang”.
(QS. 36 : 40). Ini suatu hal yang mustahil terjadi dan taka akan
memuaskan orang yang berakal dan mau berfikir.

Muhammad Ali merasakan betapa orang-orang Islam menghormati Isa A.S. dan
ibunya. Menempatkan mereka pada kedudukan yang sama. Ini hanya ada
dalam Islam atau ajaran Nasrani yang masih murni, adapun yang diucapkan
para pendeta dan pastur menurut Muhammad Ali adalah kebohongan belaka.

Muhammad Ali membaca terjemahan Al-Qur’an dan akupun bertambah yakin
bahwa Islam adalah agama yang hak yang tidak mungkin dibuat oleh
manusia. Muhammad Ali mencoba bergabung dengan komunitas muslim dan ia
mendapati mereka dengan perangai yang baik, toleransi dan saling
membimbing. Hal ini tidak ia dapatkan selama bergaul dengan orang-orang
Nasrani yang hanya melihat warna kulitnya dan bukan kepribadiannya.

Inilah kisah masuk Islamnya juara tinju dunia Muhammad Ali Clay yang
mengumumkan ke-Islaman-nya terang-terangan pada saat kemenangannya,
seolah-olah dia ingin memberikan pukulan keras kepada para taghut
seperti yang dialami oleh lawannya Sony Le Stone.

Masuk Islam-nya bukanlah akhir dari segalanya tapi baru permulaan,
karena hari itu adalah hari kelahirannya yang sebenarnya. Dia memulai
hidup barunya dari sini, dia tinggalkan seluruh masa lalunya yang
bertentangan dengan Islam dan memfokuskan perhatiannya hanya kepada
Allah. Surat yang pertama kali dia hafal adalah Al-Fatihah yang ia
memulai perjalanan kedamaian dan keimanan.

Muhammad Ali berziarah ke Mekkah tahun 1973, berkali-kali dia kesana dan
juga ke Madinah Al-Munawwarh. Dia memohon ampunan kepada Allah atas
dosa-dosa yang telah dilakukannya sebelum masuk Islam, dan memohon
kepada-Nya agar memberinya husnul khatimah.

Sekarang dia adalah seorang pemimpin keluarga muslim. Dia memberi nama
puteri-puterinya dengan nama-nama yang Islami adalah : Muhammad, Maryam,
Rasyidah, Khalilah, Jamilah, Hana dan Laila. Mereka mempelajari Islam
dan senantiasa pergi ke masjid untuk untuk menjalin hubungan yang abadi
dengan Tuhan mereka dan anak-anak muslim lainnya.

Kini dia termasuk orang-orang yang giat berdakwah di Amerika dan
memberikan dana. Meskipun demikian dia masih merasa belum memberikan
yang terbaik untuk Islam. Dibenaknya ada harapan dan keinginan untuk
memberikan lebih banya untuk pengabdian kepada agama Allah dan
menegakkan kalimah-Nya. (Sumber: Biografiku.com)

Incoming search terms:

|, olahraga tinju achmad megantara|
Biografi Muhammad Ali – Sang Legenda Tinju Dunia | Si Boy | 4.5
Leave a Reply